Hukum Perdata : Akibat Hukum Perkawinan

Dengan adanya perkawinan akan menimbulkan akibat baik terhadap suami istri, harta kekayaan maupun anak yang dilahirkan dalam perkawinan.

a.    Akibat Perkawinan Terhadap Suami istri

  1. Suami istri memikul tanggung jawab yang luhur untuk menegakan rumah tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 30).
  2. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan dalam pergaulan hidup bersama dalam masyarakat (Pasal 31 ayat (1)).
  3. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hokum (ayat 2).
  4. Suami adalah kepala keluarga dan istri sebagai ibu rumah tangga.
  5. Suami istri menentukan tempat kediaman mereka.
  6. Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, saling setia.
  7. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
  8. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya.

b.    Akibat Perkawinan Terhadap Harta Kekayaan

  1. Timbul harta bawaan dan harta bersama.
  2. Suami atau istri masing-masing mempunyai hak sepenuhnya terhadap harta bawaan untuk melakukan perbuatan hokum apapun.
  3. Suami atau istri harus selalu ada persetujuan untuk melakukan perbuatan hokum terhadap harta bersama (Pasal 35 dan 36).

c.    Akibat Perkawinan Terhadap Anak

  1. Kedudukan anak
  • Anak yang dilahirkan dalam perkawinan adalah anak yang sah (Pasal 42)
  • Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan kerabat ibunya saja.
  1. Hak dan kewajiban antara orang tua dan anak
  • Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya sampai anak-anak tersebut kawin dan dapat berdiri sendiri (Pasal 45).
  • Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendaknya yang baik.
  • Anak yang dewasa wajib memelihara orang tua dan keluarga dalam garis keturunan ke atas sesuai kemampuannya, apabila memerlukan bantuan anaknya (Pasal 46).
  1. Kekuasaan orang tua
  • Anak yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah kawin ada di bawah kekuasaan orang tua.
  • Orang tua dapat mewakili segala perbuatan hokum baik di dalam maupun di luar pengadilan.
  • Orang tua dapat mewakili segala perbuatan hokum baik di dalam maupun di luar pengadilan.
  • Orang tua tidak boleh memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah kawin
  • Kekuasaan orang tua bisa dicabut oleh pengadilan apabila:

    àia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anak

    àIa berkelakuan buruk sekali

     

  • Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anaknya.

Sedang yang dimaksud dengan kekuasaan orang tua adalah:

  • Kekuasaan yang dilakukan oleh ayah dan ibu terhadap anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan.

Isi kekuasaan orang tua adalah:

  1. Kewenangan atas anak-anak baik mengenai pribadi maupun harta kekayaannya.
  2. Kewenangan untuk mewakili anak terhadap segala perbuatan hokum di dalam maupun di luar pengadilan.

Kekuasaan orang tua itu berlaku sejak kelahiran anak atau sejak hari pengesahannya.

Kekuasaan orang tua berakhir apabila:

  • Anak itu dewasa
  • Anak itu kawin
  • Kekuasaan orang tua dicabut

     

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: